Sukoharjo — Manusia merupakan makhluk sosial, yang artinya tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain. Manusia hidup secara berkelompok dan mengerjakan sebagian tugas-tugas kehidupannya juga dengan berkelompok. Begitu pula dalam konteks pembelajaran di perguruan tinggi, terdapat tugas-tugas yang dikerjakan secara mandiri dan ada pula tugas yang harus dikerjakan secara berkelompok. Tugas kelompok sebaiknya dikerjakan secara bersama-sama dengan pembagian tugas dan peran yang jelas serta kontribusi masing-masing anggota kelompok. Meksipun demikian, terdapat sebagian mahasiswa yang menunjukkan gejala enggan memberikan kontribusi dalam tugas berkelompok, atau yang sering dikenal dengan istilah social loafing (kemalasan sosial).

Fenomena tersebut yang kemudian mendorong mahasiswi program studi Tasawuf dan Psikoterapi Fakultas Ushuluddin dan Dakwah UIN Raden Mas Said Surakarta angkatan 2017 yang bernama Muhimatu Khoirun Nisa untuk menelitinya. Penelitian tersebut dilakukan di bawah bimbingan Siti Fathonah, S.Th.I., M.A. dengan judul “Kemalasan Sosial (Social Loafing) Pada Mahasiswa Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta”. Penelitian tersebut menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat gejala kemalasan sosial yang terjadi pada mahasiswa UIN Raden Mas Said Surakarta misalkan, menurunkan kontribusinya saat dalam pekerjaan kelompok; menunda pengerjaan tugas; tidak mau memberikan kontribusi ide/gagasan; tidak mau mengerjakan tugas baru selain tugas yang menjadi bagiannya; terlalu banyak mengobrol dan bermain gawai. Selain itu, penelitian tersebut juga mengungkap dampak buruk dari kemalasan sosial, misalkan merugikan anggota kelompok yang lain; memunculkan rasa iri dan sakit hati dari anggota kelompok lain; serta menjadi kebiasan buruk. Pada penelitian tersebut, tak lupa Muhimatu menganalisis kemalasan sosial dengan menggunakan perspektif tasawuf. Menurutnya, tasawuf mengajarkan bahwa hidup bukan hanya sebatas memenuhi hubungan manusia dengan Allah SWT, namun juga menjalin hubungan dengan orang lain secara baik. Salah satunya, diwujudkan dengan bekerja secara berkelompok. Tasawuf juga mendorong manusia untuk saling menolong, sehingga perilaku kemalasan sosial ini menjadi perilaku yang kurang baik.

Penelitian tersebut berhasil dipertahankan di depan dewan penguji, yaitu Dr. Nurisman, M.Ag. dan Supriyanto, M.Ud., pada hari Kamis, 18 November 2021. Keberhasilannya tersebut membuatnya menjadi lulusan program studi Tasawuf dan Psikoterapi UIN Raden Mas Said ke-16, sehingga berhak menyandang gelar Sarjana Agama (S.Ag.) di bidang tasawuf dan psikoterapi.

(Foto: https://researchleap.com, Red: Ahmad Saifuddin)

Leave a Reply