Sukoharjo — Majelis zikir berkembang cukup pesat di tengah masyarakat. Di sisi lain, majelis zikir juga sering kali dikaitkan dengan kondisi kejiwaan pengamalnya, misalkan tentang ketenangan jiwa. Secara doktrinal, zikir memang dapat menyebabkan ketenangan jiwa pada pengamalnya. Begitu pula secara empiris, sudah banyak penelitian yang membuktikan bahwa zikir dapat meningkatkan ketenangan jiwa individu. Meskipun demikian, belum banyak penelitian yang mengungkap dinamika ketenangan jiwa yang disebabkan karena zikir tersebut serta peran imam majelis zikir dalam menciptakan ketenangan jiwa. Latar belakang ini yang mendorong Nitia Wahid Siti Syamsiyah, mahasiswa program studi Tasawuf dan Psikoterapi angkatan 2017, untuk menelitinya.

Di bawah bimbingan Ahmad Saifuddin, M.Psi., Psikolog, Nitia mampu menyelesaikan penelitian yang berjudul “Zikir Ratib Al-Haddad dan Ketenangan Jiwa: Studi Fenomenologi Terhadap Jamaah Majelis Annisa Dukuh Tawangrejo, Desa Pablengan, Kecamatan Matesih” dan melahirkan beberapa temuan. Pertama, Nitia menemukan beberapa tipologi pengalaman yang dialami oleh para pengamalnya zikir Ratib Al-Haddad, baik pada aspek psikologis, fisiologis, sosial-psikologis, dan spiritual. Tipologi pengalaman pada beberapa aspek tersebut menyebabkan munculnya ketenangan jiwa. Kedua, ketenangan jiwa yang tercipta pada para pengamal tersebut juga berdampak pada perubahan perilaku ke arah yang lebih baik. Ketiga, Nitia juga menemukan aspek baru pada tipologi pengalaman para pengamal zikri Ratib Al-Haddad yang menyebabkan ketenangan jiwa, yaitu aspek kebersamaan. Ketika para pengamal mengamalkan zikir secara bersama, maka akan muncul dukungan sosial dan perasaan senasib sehingga berdampak positif pada ketenangan jiwa Keempat, penelitian tersebut menemukan bahwa imam majelis, dengan intonasi suara, pengetahuannya, dan gaya penyampaiannya, mampu mempengaruhi kondisi psikologis pengamal zikir sehingga berdampak pada ketenangan jiwa.

Penelitian tersebut berhasil dipertahankan dan dipertanggungjawabkan di depan dewan penguji, yaitu Prof. Dr. KH. Syamsul Bakri, M.Ag. dan Siti Fathonah, M.A., pada Selasa 21 September 2021. Keberhasilan Nitia tersebut menyebabkannya menjadi lulusan pertama mahasiswa program studi Tasawuf dan Psikoterapi angkatan 2017 sekaligus lulusan ketigabelas program studi Tasawuf dan Psikoterapi Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Surakarta. Dengan demikian, Nitia berhak menyandang gelar Sarjana Agama di bidang Tasawuf dan Psikoterapi.

(Red: Ahmad Saifuddin – Sekretaris Tasawuf dan Psikoterapi IAIN Surakarta, Foto: kangsantri.id)

Leave a Reply