Sukoharjo — Senin (31/05) Himpunan Mahasiswa Program Studi Tasawuf dan Psikoterapi (HMPS TP) Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Surakarta mengadakan acara Mahasiswa Berdialektika atau biasa disebut MAHARDIKA yang merupakan acara rutin Himpunan Mahasiswa Program Studi Tasawuf dan Psikoterapi Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Surakarta periode 2020/2021.

Tema MAHARDIKA yang kedua ini adalah “Ramadan Bukan Sekedar Ra Madhang: Membumi atau Menguap?”. Tema ini dipilih sebab banyak dari kita melihat fenomena ketika Ramadan tiba, banyak orang berbondong-bondong untuk mengeluarkan harta dan tenaga mereka dengan iming-iming diganjar pahala yang berlipat ganda sebab memberi makan orang yang tengah berpuasa. Bahkan, kita sangat sering menjumpai hampir setiap hari ada saja yang menyumbangkan harta mereka dan membagikannya di jalan-jalan. Biasanya disebut ‘Ramadan Berbagi’. Mulai dari individu, kolektif, hingga tingkat instansi. Tak ada yang salah, sebab sedekah tak memandang waktu, tempat, dan kondisi. Selain itu, banyak pula orang yang meningkatkan ibadahnya secara drastis di bulan Ramadan. Kondisi itu pun juga bukan hal yang salah.

Hal yang menjadi daya tarik adalah ketika Ramadan itu berakhir, apakah masih ada orang-orang yang dengan suka rela membagikan sedikit hartanya untuk mengganjal perut orang tak punya? Apakah saban hari masih gencar kita tengok orang-orang yang tanpa pamrih dengan mengharapkan pahala berlipat untuk menyisihkan sedikit tenaganya untuk turun ke jalan dan menebar kebaikan? Apakah orang-orang yang giat beribadah di bulan Ramadan masih mempertahankan giatnya ibadah tersebut di luar bulan Ramadan? Nilai riil dari Ramadan adalah berbagi, mengendalikan diri, dan mengasah empati. Dengan begitu, tujuan dari Ramadan dan ibadah puasa ini dapat dihayati dengan khidmat. Nilai hikmah Ramadan tersebut yang menentukan setiap perilaku dan ibadah yang dilakukan selama bulan Ramadan itu akan tetap membumi di bulan-bulan atau justru menguap tanpa jejak.

Berawal dari fenomena ini kemudian HMPS Tasawuf dan Psikoterapi mengangkatnya menjadi tema diskusi yang menarik dan diselenggarakan melalui aplikasi confference Google meet. Acara tersebut dipantik oleh Oscar Maulana yang berasal dari proigram studi Hukum Ekonomi Syariah dan didampingi oleh moderator Husnul Khotimah Biladina dari program studi Tasawuf dan Psikoterapi. Kegiatan tersebut dihadiri pula oleh Sekretaris Program Studi Tasawuf dan Psikoterapi IAIN Surakarta, Ahmad Saifuddin, M.Psi., Psikolog. Acara MAHARDIKA berlangsung secara lancar karena diikuti oleh mahasiswa dari berbagai program studi. Para peserta menyampaikan pandangannya terkait fenomena-fenomena agama yang terjadi di bulan Ramadan dari sudut pandangnya masing-masing. Di akhir acara, Ahmad Saifuddin, M.Psi., Psikolog selaku Sekretaris Program Studi Tasawuf dan Psikoterapi IAIN Surakarta menyampaikan bahwa puasa di bulan Ramadan memiliki nilai pengendalian diri sehingga puasa mengandung unsur terapeutik. Ketika individu mampu mengendalikan dorongan, maka individu tidak akan rentan mengalami gangguan-gangguan mental dan spiritual. Selain itu, puasa juga mengandung unsur pembiasaan, yang artinya keberhasilan puasa dilihat dari konsistensi perilaku dan peribadatan di bulan selain bulan Ramadan. Terakhir, puasa juga mengajarkan empati sehingga memperbesar dorongan untuk menolong sesama dan mengentaskan berbagai permasalahan.

(Foto dan Red: Departemen Kominfo HMPS Tasawuf dan Psikoterapi Periode 2021)

Leave a Reply