Klaten — Program Studi Tasawuf dan Psikoterapi Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Surakarta mengadakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat pada hari Ahad (28/03) bertempat di Pondok Pesantren Darul Afkar Tegalrejo Ceper Klaten. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat tersebut merupakan kegiatan rutin tahunan yang menjadi kewajiban program studi agar dapat memberikan peran kepada masyarakat luas serta tidak berjarak dengan masyarakat. Tema yang dipilih dalam pengabdian kepada masyarakat tersebut adalah “Peran Pengobatan Dengan Metode Sufi Untuk Mencapai Kesehatan Pasca Pandemi” yang dibawakan oleh Ahmad Saifuddin, M.Psi., Psikolog, Mamluatur Rahmah, M.Ag., dan Dr. Nurisman, M.Ag. Acara berlangsung dari pukul 10.00 WIB sampai 12.00 WIB di Joglo Pondok Pesantren Darul Afkar Tegalrejo Ceper Klaten dan dihadiri oleh 30 orang peserta. Selain itu, kegiatan pengabdian masyarakat tersebut melibatkan mahasiswa agar mahasiswa dapat belajar tentang cara melakukan pengabdian masyarakat. Mahasiswa yang dilibatkan adalah Habib Baihaqqi Surya Atmaja dan Lia Faridatun Nisa.

Ketika memberikan sambutan, Dr. KH. Syamsul Bakri, M.Ag. selaku pengasuh Pondok Pesantren Darul Afkar menyampaikan bahwa kegiatan pengabdian kepada masyarakat tersebut merupakan tindak lanjut dari kerjasama yang telah dibangun antara kedua pihak beberapa tahun lalu. Selain itu, pengabdian kepada masyarakat tersebut juga menjadi ajang pertemuan antara praktisi dengan ilmuwan terkait sufi healing. Seperti yang sudah diketahui bahwa para santri di Pondok Pesantren Darul Afkar merupakan praktisi sufi healing, khususnya adalah tasawuf reiki dan hipnoterapi. Dr. KH. Syamsul Bakri, M.Ag. berharap dengan pertemuan tersebut pengetahuan dan argumentasi tentang sufi healing bisa semakin menguat di dalam diri para praktisi sufi healing. Selain itu, Dr. KH. Syamsul Bakri, M.Ag. juga menjelaskan bahwa tasawuf memiliki tingkatan metarasional, yang artinya melampaui rasional dan irasional. Hal ini disebabkan tasawuf bukan hanya menggunakan pemikiran rasional, namun juga meyakini intervensi Tuhan dalam setiap kehidupan.

Adapun Ahmad Saifuddin, M.Psi., Psikolog menyampaikan bahwa pandemi Covid-19 diprediksi tidak bisa berakhir meski dapat berkurang drastis dengan adanya vaksin dan terbentuknya kekebalan. Sehingga, dampak dari Covid-19 itu sendiri diprediksi masih akan berlangsung. Misalkan, terkait kecemasan dan stres. Terlebih lagi apabila pembatasan sudah tidak diberlakukan, kekhawatiran dan ketakutan akan tertularnya virus Covid-19 masih akan tetap ada. Oleh karena itu, tasawuf dapat memfungsikan perannya pada era pasca pandemi tersebut. Tasawuf memiliki fungsi salah satunya adalah pengobatan. Berbagai ritual yang diajarkan dalam tasawuf dapat menjadi psikoterapi gangguan-gangguan mental dan spiritual yang muncul pada era pasca pandemi tersebut. Misalkan, berzikir untuk menurunkan kecemasan, meditasi untuk meningkatkan ketenangan, berprasangka baik untuk meningkatkan kekebalan, tawakal untuk mengurangi tingkat stres, mengambil ibrah dari konsep maqamat untuk meningkatkan keterampilan pasca pandemi, dan menjadikan Covid-19 sebagai pelajaran bukan hanya meningkatkan kebersihan fisik namun juga kebersihan jiwa sehingga kesehatan mental dan spiritual bisa dicapai.

Sedangkan, Mamluatur Rahmah, M.Ag. menjelaskan tentang pentingnya berdamai dengan diri sendiri untuk menghadapi masa pandemi yang masih berlangsung. Damai dengan diri sendiri dan kondisi akan meningkatkan ketenangan sehingga individu tidak rentan terkena gangguan mental. Selain itu, Mamluatur Rahmah, M.Ag. menekankan bahwa kebimbingan merupakan salah satu sumber munculnya penyakitnya karena kebimbingan memunculkan prasangka buruk dan tidak terkendalinya emosi negatif. Tidak terkendalinya emosi negatif ini akan mengganggu kinerja organ tubuh. Mamluatur Rahmah, M.Ag. juga menyampaikan bahwa pikiran dan tubuh saling mempengaruhi. Setiap kondisi pikiran akan memunculkan efek fisiologis dan biologis dalam diri manusia, termasuk mempengaruhi kinerja-kinerja hormonal. Sehingga, apabila pikiran manusia negatif, maka akan berdampak munculnya hormon-hormon yang menyebabkan penyakit. Sedangkan, apabila pikiran manusia positif, maka akan berpengaruh dalam menghasilkan hormon-hormon yang menyebabkan kesehatan tercapai. Terakhir, Mamluatur Rahmah, M.Ag. menjelaskan tentang cara kerja rukun Islam dalam menjaga kesehatan dan menyembuhkan penyakit.

(Foto: Tim Pengabdian Masyarakat, Red: Ahmad Saifuddin)

Leave a Reply