Sukoharjo — Perkembangan dunia menjadi modern menyebabkan masyarakat berlomba-lomba untuk mendapatkan materi sebanyak-banyaknya. Kondisi tersebut menyebabkan individu rentan terdampak permasalahan psikologis. Di sisi lain, terdapat sebagian kelompok yang berfokus pada implementasi ritual peribadatan sehingga terjebak memaknai zuhud secara kurang proporsional. Kondisi tersebut menyebabkan individu menjadi benar-benar tidak menghiraukan dunia dan tidak bekerja. Padahal, sebagian dari implementasi agama membutuhkan materi.

Fenomena yang kontras ini melatarbelakangi Aida Fitri Aswitami, mahasiswa program studi Tasawuf dan Psikoterapi Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Surakarta untuk meneliti tentang etos kerja. Penelitiannya menggunakan kajian literatur dengan memilih tokoh Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah). Hamka dipilih karena selain memiliki pengetahuan keislaman yang luas, juga dikenal sebagai tokoh yang menghayati tasawuf secara mendalam. Selain itu, dalam beberapa bukunya, Hamka juga mengkritik kesalahpahaman sebagian kelompok terhadap konsep tasawuf sehingga berdampak pada etos kerja.

Penelitian yang berjudul “Etos Kerja Masyarakat Modern dalam Konsep Tasawuf Hamka Menurut Perspektif Hermeneutika Schleiermacher” dan di bawah bimbingan Ahmad Saifuddin, M.Psi., Psikolog tersebut berhasil diselesaikannya dan dipertanggungjawabkan di hadapan dewan penguji, Dr. Nurisman, M.Ag. dan Siti Fathonah, M.A. pada Kamis 25 Februari 2021. Dengan menggunakan metode hermeneutika Friedrich Schleiermacher yang meliputi analisis gramatikal dan analisis psikologikal, penelitian Aida menghasilkan bahwa Hamka sangat mengkritik dan menentang praktik tasawuf yang cenderung disalahpahami sehingga menciptakan umat yang pasif. Padahal, Islam menyeru untuk saling peduli dan sebagian peribadatan Islam membutuhkan materi. Sehingga, Islam pada dasarnya mendorong manusia untuk memiliki etos kerja yang tinggi. Meskipun demikian, materi yang diperolehnya pun juga hendaknya tidak sampai membuat manusia lupa diri dan tergantung pada keduniawian. Hamka menganggap bahwa zuhud hendaknya tidak dipahami sebagai sikap pasrah dan tidak melakukan apapun. Aida juga menganalisis bahwa dinamika kehidupan dan pendidikan Hamka berpengaruh pada pemikirannya tentang etos kerja tersebut.

Hasil penelitiannya menemukan relevansi di zaman sekarang. Bahwa etos kerja yang tinggi namun disertai dengan sikap tidak menggantungkan diri pada materi dan duniawi akan menciptakan kepribadian yang rajin bekerja, namun menghindarkan manusia dari kerentanan permasalahan psikologis.

(Sumber foto: hasanalbanna.com, Red: Ahmad Saifuddin)

Leave a Reply