Sukoharjo — Penghafal Al-Qur’an merupakan predikat yang mulia di dunia maupun di akhirat. Oleh karena itu, saat ini banyak orang tua yang ingin anak-anaknya mencapai predikat tersebut. Tren semacam ini mengakibatkan pondok pesantren khusus untuk menghafal Al-Qur’an berkembang pesat. Terdapat berbagai macam metode yang diterapkan untuk membentuk penghafal Al-Qur’an, misalkan talaqi, tasmi’, ziadah dan tikrar/muraja’ah. Pada kondisi tertentu, para calon penghafal Al Qur’an mengalami kecemasan yang disebabkan oleh beberapa faktor, misalkan ketakutannya akan lupa terhadap hafalan, faktor rasa malu, faktor tipologi kepribadian, dan faktor pikiran. Fenomema kecemasan para santri yang menghafalkan Al-Qur’an ini kemudian mendorong Latifah Wiwid Safitri, seorang mahasiswa program studi Tasawuf dan Psikoterapi Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Surakarta meneliti hal tersebut.

Penelitiannya yang melibatkan delapan santriwati yang sedang menghafalkan Al-Qur’an ini menghasilkan bahwa secara garis besar terdapat tiga bentuk respons kecemasan, yaitu respons kognitif, respons afektif, dan respons perilaku. Meskipun demikian, setiap individu memiliki bentuk respons yang berbeda-beda. Penelitiannya ini kemudian memberikan gambaran bahwa penanganan psikologis diperlukan dalam konteks menghafalkan Al-Qur’an agar proses menghafal tersebut bisa berjalan lancar dan potensi kecemasan menjadi gangguan yang lebih besar bisa diminimalisasi.

Penelitian yang berjudul “Kecemasan Santriwati Yang Mengalami Kesulitan Dalam Mencapai Target Hafalan Al-Qur’an” tersebut dipertanggungjawabkan oleh Latifah di sidang munaqasyah pada hari Jumat (19/02) di hadapan ketua sidang Siti Fathonah (pembimbing skripsi), M.A. serta dua pengujinya, yaitu Ahmad Saifuddin, M.Psi., Psikolog dan Drs. H. Ahmad Hudaya, M.Ag. Keberhasilannya dalam mempertahankan penelitiannya tersebut membawanya menjadi lulusan ketujuh program studi Tasawuf dan Psikoterapi Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Surakarta dan berhak menyandang gelar Sarjana Agama (S.Ag.) di bidang tasawuf dan psikoterapi.

(Sumber foto: republika.co.id, Red: Ahmad Saifuddin)

Leave a Reply