Sukoharjo – Program Studi Tasawuf dan Psikoterapi Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Surakarta kembali menggelar kelas penelitian pada hari Jumat (05/02). Kali ini, kelas penelitian memasuki seri terakhir dengan tema studi kepustakaan. Kelas penelitian tersebut dibuka oleh Ketua Program Studi Tasawuf dan Psikoterapi IAIN Surakarta, Supriyanto, S.Ud., M.Ud. Narasumber pada kelas penelitian tersebut adalah Zaenal Muttaqin, Ph.D., selaku Wakil Dekan II Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Surakarta sekaligus dosen/akademisi yang menggeluti metode studi kepustakaan. Program ini diperuntukkan bagi mahasiswa Tasawuf dan Psikoterapi angkatan 2017 yang sudah masuk ke semester 8 dan diadakan secara daring.

Zaenal Muttaqin mengawali materi dengan perbedaan antara kajian pustaka dengan penelitian pustaka karena dua hal tersebut sering dipahami secara tumpang tindih. Kajian pustaka (literature review) adalah suatu langkah dalam penelitian yang mengkaji penelitian terdahulu dengan tema dan topik yang relevan dengan penelitian yang akan dilakukan. Kajian pustaka masuk di dalam proses penelitian, apapun metodenya. Fungsinya menjamin originalitas penelitian yang sedang dilakukan serta menunjukkan kontribusi keilmuan yang bisa diberikan dari penelitian yang sedang dilakukan. Kajian pustaka juga bertujuan untuk pengakuan dan penghormatan terhadap peneliti terdahulu. Adapun penelitian pustaka (library research) adalah penelitian yang dilakukan dengan mengkaji pustaka, misalkan buku, teks, jurnal, koran, majalah, arsip sejarah, dan data digital. Misalkan, penelitian terhadap pemikiran tokoh, penelitian sejarah, dan penelitian buku.

Selanjutnya, Zaenal Muttaqin menjelaskan macam-macam jenis sumber data pada penelitian pustaka, yaitu sumber data primer, sekunder, dan tersier. Zaenal menekankan kepada para mahasiswa agar jangan sampai terbalik-balik dalam mengklasifikasikan sumber data tersebut. Zaenal juga mengulas secara detail dengan langkah-langkah penelitian pustaka, mulai dari menentukan tema besar penelitian; mengumpulkan data awal berupa bahan bacaan yang relevan; memilih fokus penelitian yang lebih spesifik; mengklasifikasi dan mengorganisasikan sumber data sebanyak mungkin menjadi sumber data primer, sukender, dan tersier; membuat catatan (temuan) penelitian; melakukan analisis dengan memperkaya sumber bacaan; membaca ulang sumber primer atau mengklarifikasi tokoh terkait jika masih hidup bahwa hasil penelitiannya benar-benar benar sehingga menghindari kesalahan penafsiran terhadap teks atau tokoh; dan menambah sumber bacaan yang relevan untuk memperkaya analisis.

Terkait langkah dalam metode penelitian pustaka, Zaenal berpesan kepada mahasiswa untuk tidak asal membuat tema penelitian jika tidak pernah melakukan pre-research atau mengumpulkan data awal. Jika tidak yakin menemukan data, maka sebaiknya mengganti dengan topik atau tema yang ada datanya. Dengan demikian, mahasiswa hendaknya mencari dan memiliki data yang kuat. Oleh karena itu, mahasiswa harus banyak membaca, baik buku, jurnal, maupun sumber data bentuk lain. Selain itu, Zaenal juga menambahkan bahwa meskipun penelitian pustaka berfokus pada pustaka dan teks, penelitian pustaka diperbolehkan bahkan dianjurkan menggunakan metode wawancara terhadap tokoh yang diteliti apabila tokoh tersebut masih hidup.

Setelah menyampaikan langkah penelitian pustaka, Zaenal menyampaikan berbagai jenis contoh metode analisis data. Pertama, analisis wacana adalah mengkaji wacana yang terkandung dalam pesan komunikasi. Kedua, analisis kritik sejarah. Mencakup kritik eksternal (misalkan, mengkaji otentisitas atau keaslian dari sumber sejarah) dan kritik intern (misalkan, mengkaji validitas substansi isi dari sumber sejarah). Ketiga, analisis isi, mencakup analisis metodologis misalkan metode penyajian, susunan bahasa, ciri fisik buku, bentuk, dan tata letak; serta kritik substansi misalkan mengkaji isi dari sebuah teks dengan mencari makna. Keempat, metode hermeunetika adalah metode untuk memahami sebuah teks, atau menafsirkan teks. Terdapat tiga unsur penting dalam hermeneutika, yaitu penulis, teks/buku, dan pembaca/peneliti. Selain itu, terdapat tiga jenis hermeneutika, yaitu hermeneutika teoritis, filosofis, dan kritis. Dalam hal analisis data, Zaenal berpesan agar mahasiswa dapat melakukan teknik deskriptif-analitis, bukan hanya deskriptif saja. Sehingga, kemampuan menganalisis mahasiswa sangat berperan dalam hal ini.

(Ahmad Saifuddin – Sekretaris Program Studi Tasawuf dan Psikoterapi Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Surakarta)

Leave a Reply