Sukoharjo – Kamis (19/11) merupakan hari penting bagi mahasiswa program studi Tasawuf dan Psikoterapi Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Surakarta yang bernama Sidiq Rahmadi. Pasalnya, pada hari tersebut ia berhasil mempertanggungjawabkan hasil penelitiannya yang berjudul “Konsep Kebahagiaan Menurut Pemikiran Suryomentaram” sehingga ia berhasil mencatatkan dirinya sebagai lulusan program studi Tasawuf dan Psikoterapi Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Surakarta yang keempat serta berhak menyandang gelar Sarjana Agama. Penelitian tersebut dilakukannya di bawah bimbingan Dr. Zainul Abas, M.Ag. dan diuji oleh Siti Fathonah, M.A. dan Ahmad Saifuddin, M.Psi., Psikolog.

Penelitian tersebut dilakukan atas latar belakang bahwa kehidupan modern bergulir sangat cepat sehingga mempengaruhi batasan kebahagiaan. Kebahagiaan yang pada dasarnya sudah menjadi tema menarik selama beberapa tahun terakhir belum juga terumuskan secara komprehensif. Selain itu, Sidiq Rahmadi juga menganggap bahwa perlunya merumuskan konsep kebahagiaan yang berdasarkan kearifan lokal, salah satunya dengan meneliti konsep kebahagiaan menurut Ki Ageng Suryomentaram. Penelitian tersebut dilakukan dengan pendekatan kajian pustaka dan dianalisis dengan teknik hermeneutika Schleiermacher. Hasil penelitiannya mengungkap bahwa seseorang harus memiliki ilmu pengetahuan tentang barang asal dan barang jadi untuk dapat berpikir dengan benar untuk memahami kebahagiaan. Tahapan pertama tersebut menjadi modalitas seseorang untuk mampu membedakan ilmu kasunyatan dan ilmu keyakinan. Jika berhasil menjalani tahapan tersebut, maka seseorang mulai  mengenal Kramadangsa dengan utuh. Tahapan berikutnya untuk mencapai kebahagiaan adalah seseorang harus memahami berbagai rasa, yaitu rasa hidup, rasa sama, dan rasa abadi untuk menyadari bahwa senang dan susah tidak selamanya terjadi pada diri manusia karena sifatnya yang mulur mungkret. Tahapan terakhir adalah mawas diri (intropeksi diri). “Aku” melihat karep sebagai daya penggerak. Kebahagiaan dicapai ketika seseorang sudah mencapai level “manusia tanpa ciri”, yaitu ketika yang menjadi penggerak dalam diri manusia adalah “aku” bukan karep. Penelitian Sidiq Rahmadi terasa berbeda karena terdapat integrasi antara konsep kebahagiaan menurut Ki Ageng Suryomentaram dengan tasawuf dan psikoterapi.

(Ahmad Saifuddin, Sekretaris Program Studi Tasawuf dan Psikoterapi Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Surakarta)

Leave a Reply