Oleh: Fian Riskyan Surya Pambuka (Mahasiswa Program Studi Tasawuf dan Psikoterapi Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Surakarta)

Perbincangan tentang kondisi masyarakat modern telah ramai menghasilkan banyak analisis berikut dampak atau problematika yang terjadi akibat kemajuan teknologi, fisik maupun psikis. John dan Patricia Aburdene (1990) mengemukakan Megatrends 2000 yaitu sepuluh kejadian yang akan dialami masyarakat modern dalam bukunya Ten Ner Direction for The 1990’s Megatrends 2000. Sepeluh kejadian tersebut adalah ledakan ekonomi global, bangkitnya seni, sosialisme pasar ekonomi bebas, gaya hidup global dan nasional kultural, penswastaan negara kesejahteraan, kebangkitan pasifik, kepemimpinan perempaun, era biologi, kebangkitan agama milenium baru, dan berjayanya individual.

Sebuah kemajuan yang coba direalisasikan dengan percepatan kinerja manusia dibantu teknologi mesin adalah impian para peneliti dan penemu dalam bidang tehnologi untuk mempermudah kinerja manusia. Bukan manusia yang bekerja secara penuh, akan tetapi manusia tinggal menjalankan mesin yang ada dengan gerakan yang minimalis, bahkan dengan duduk saja.

Kita dapat mencermatinya dalam komunikasi sekarang yang sangat terbantu dengan adanya handphone atau smartphone. Kita dapat cepat berkomunikasi dengan saudara yang berada jauh di pulau berbeda sekalipun. Adanya kendaraan pun mempercepat kita menuju tempat yang kita inginkan, dan lain sebagainya. Kini dalam sisi lain manusia telah mengalami kesibukan dan tututan yang semakin tinggi.

Kemajuan teknologi mendorong kebutuhan yang meningkat, tuntutan kerja pun semakin meningkat. Kebutuhan yang dicapai kemudian hanyalah secara material atau kebendaan, hingga lupa akan kebutuhan jiwa. Buya Hamka dalam buku Lembaga Budi (2016) mengatakan, “Zaman modern menyebabkan orang hidup bernafsi-nafsi, siapa lu siapa gua. Tidak mau peduli kepada orang kiri dan kanan, sampai tetangga tidak mengenal tetangga; masa bodoh. Dapat kesulitasn, panggil advocat. Dapat sakit, panggil dokter. Ada kematian dalam rumah, upah tukang gali kubur. Habis perkara!”.

Kesibukan masyarakat modern tidak lepas dari keinginan akan pemenuhan kebutuhan. Keinginan merupakan salah satu dorongan atau motivasi yang ada dalam diri individu. Menurut Abraham Maslow dalam buku Motivation and Personality (1954) dikatakan bahwa, kepuasan kebutuhan yang tinggi akan lebih dekat dengan aktualisasi diri. Maslow membagi tingkat kebutuhan menjadi lima, yaitu kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan rasa cinta, kebutuhan penghargaan atau pengakuan, dan aktualisasi diri.

Hierarki yang dikemukakan oleh Maslow menyatakan bahwa untuk mencapai aktualisasi diri perlu pemenuhan kebutuhan secara fisik dan psikis. Seperti halnya kebutuhan yang mesti dipenuhi di era modernisasi ini, tidak hanya pemenuhan kebutuhan yang berorientasi pada fisik atau materi saja, akan tetapi perlu juga pemenuhan kebutuhan psikis atau kebutuhan untuk jiwanya. Kebutuhan psikis ada pada tingkat kebutuhan kedua, tiga, dan empat. Sedangkan pemenuhan kebutuhan psikis penting untuk mencapai aktualisasi diri di era modern kini.

Berbicara tentang psikis adalah berbicara tentang jiwa dengan keilmuannya yakni psikologi, dan dalam Islam pemenuhan dimensi batin dapat dilakukan adalah dengan jalan sunyi (tasawuf). Pemenuhan kebutuhan jiwa bukan berarti memberi makan jiwa dengan kesenangan-kesenangan duniawi.

Di jalan tasawuf, tahap pemenuhan jiwa yang pertama adalah sebuah usaha membersihkan jiwa dari belenggu keinginan materi yang berlebihan. Tahap ini disebut dengan takhali, yang tidak hanya membersihkan belenggu keinginan akan materi, melainkan juga menghilangkan perilaku tercela dan pikiran-pikiran yang buruk. Hal ini perlu dilatih atau mujahadah sedikit demi sedikit. Mekanisme pembiasaan diperlukan dalam bermujahadah agar tetap istikamah menjalani pembersihan jiwa dari perilaku dan pikiran yang tercela.

Kedua adalah tahali, yaitu menghiasi diri dengan sifat dan sikap yang baik. Ketika pikiran mulai diisi dengan hal-hal baik dan positif akan membuat individu memiliki pengendalian diri. Pengendalian akan sifat dan sikap yang baik menandakan pemenuhan jiwa dari segala yang terpuji mulai menghiasi jiwa. Bersihlah batin dan jiwa dari sifat buruk. Hingga mencapai titik tajali, yakni mengenal Tuhan (Hamka, 1992).

Kekuatan jiwa yang telah bersih dari hal tercela akan mencapai pemahaman manusia yang menganal Tuhannya. Jika seseorang mencapai tahap pensucian jiwa, tingkat kebutuhan akan rasa aman, cinta, dan penghargaan telah terpenuhi karena rasa aman datang dari Tuhan Yang Maha Penolong. Cinta tidak lain hadir dari Dia yang Maha Cinta, dan penghargaan atau pengakuan bahwa manusia sebagai hamba-Nya adalah bentuk penghambaan kepada-Nya.

Tercapainya aktualisasi diri dari usaha yang dilakukan manusia di era modern ini semestinya tidaklah lepas dari pembersihan dan pengolahan akan jiwa. Modernisasi mencoba melukis peradaban manusia yang maju, tetapi terdapat warna yang mesti disadari manusia modern yaitu problema yang akan mengguncang kesehatan jiwa.

Tasawuf sebagai jalan sunyi memberikan tawaran yang unik dalam usaha manusia menjaga jiwa atau psikis. Aktualisasi diri di era modern adalah hasrat setiap individu yang menjadi aspek yang penting dalam berperilaku. Maka guna menjaga perilaku dan kesehatan jiwa yang mengarahkannya, aktualisasi diri semestinya berjalan pada jalan yang seturut pada tahap-hahap pemenuhunan jiwa secara tasawufi.

Referensi:

Hamka, 1992, Pandangan Hidup Muslim, Jakarta: Bulan Bintang.

Hamka, 2016, Lembaga Budi, Jakarta: Republika.

Maslow, A, 1954, Motivation and Personality, New York: Harper & Row.

Tulisan ini pernah dimuat di https://mjscolombo.com/aktualisasi-diri-di-jalan-sunyi/ dan dimuat ulang dengan izin

Leave a Reply