“Saya mengkhawatirkan adanya keterpisahan antara disiplin keilmuan, keagamaan, dan kearifan lokal dalam perkembangan sufi healing. Ketika saya melihat silabus-silabus program studi Tasawuf dan Psikoterapi di Indonesia, mereka masih berfokus pada salah satu bidang saja, misalkan bidang keilmuan tasawuf. Maka, dalam acara ini diharapkan dapat melahirkan konsep integrasi ketiga bidang tersebut yang ideal. Jika program studi Tasawuf dan Psikoterapi IAIN Surakarta mampu merumuskan sufi healing dengan mengintegrasikan ketiganya, maka saya kira itu luar biasa”, tutur Dr. Sulaiman, M.Ag. selaku Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Ushuluddin dan Humaniora UIN Walisongo Semarang sekaligus Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Konsorsium Tasawuf dan Psikoterapi pada acara seminar program studi Tasawuf dan Psikoterapi Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Surakarta dengan tema “Sufi Healing Sebagai Upaya Integrasi Keagamaan, Keilmuan, dan Kearifan Lokal untuk Mencapai Kesehatan Mental dan Spiritual” pada Senin, 19 Oktober 2020.

Dr. Sulaiman, M.Ag. sebagai narasumber pertama pada acara tersebut, awalnya menyampaikan terkait konsep kesehatan sebagai isu utama dalam seminar tersebut. Lebih lanjut, Dr. Sulaiman, M.Ag. menjelaskan bahwa kesehatan mencakup kesehatan fisik, mental, spiritual, dan mental. Sufi healing diupayakan berkontribusi pada kesehatan mental dan spiritual. Dalam hal kurikulum program studi Tasawuf dan Psikoterapi, Dr. Sulaiman, M.Ag. menyampaikan terkait macam-macam kekhasan program studi Tasawuf dan Psikoterapi di perguruan tinggi berbagai Indonesia.

Selanjutnya, Dr. Sulaiman, M.Ag. juga menjelaskan tentang relasi agama dan sains dengan mengutip pendapat Ian Barbour. Terdapat empat jenis relasi sains dengan agama, yaitu konflik, independensi, dialog, dan integrasi. “Jika pembelajaran sufi healing sudah mencapai taraf integrasi, maka itu menjadi hal menarik”, sambung Dr. Sulaiman, M.Ag. Hal ini disebabkan konsep pembelajaran sufi healing yang ideal itu mengintegrasikan ketiga bidang, yaitu keilmuan (psikologi), keislaman (tasawuf), dan kearifan lokal. Integrasi ketiga bidang tersebut kemudian berpotensi memunculkan konsep dan praktik psikoterapi yang baru. Oleh karena itu, Dr. Sulaiman, M.Ag., menyarankan untuk program studi Tasawuf dan Psikoterapi untuk menggunakan paradigma integrasi dan interkoneksi. Akhir pemaparan, Dr. Sulaiman, M.Ag. menyinggung bahwa sufi healing juga bisa berkontribusi pada dinamika psikologi positif dan psikoterapi kedukaan. Pekerjaan rumah dari program studi Tasawuf dan Psikoterapi adalah menguji sufi healing dengan penelitian empiris sampai diakui oleh seluruh kalangan.

(Ahmad Saifuddin, sekretaris program studi Tasawuf dan Psikoterapi Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Surakarta)

Leave a Reply