Sabtu (26/09) menjadi akhir dari Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) bagi mahasiswa program studi Tasawuf dan Psikoterapi IAIN Surakarta semester 7. PPL tersebut dimulai pada Senin (17/08), sehingga mahasiswa menghabiskan waktu selama enam minggu untuk melaksanakan kegiatan PPL. PPL merupakan kegiatan yang wajib ditempuh oleh mahasiswa di IAIN Surakarta, khususnya program studi Tasawuf dan Psikoterapi, guna menerapkan teori dan pengetahuan yang telah diperolehnya selama enam semester. Pemilihan lokasi PPL ditentukan berdasarkan fokus dan bidang garap program studi.

PPL pada tahun 2020 ini menjadi PPL yang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Pada dasarnya, PPL dilaksanakan dengan menempatkan mahasiswa di lembaga, baik milik pemerintah maupun swasta, guna menganalisis masalah dan menerapkan strategi pemecahan masalah dengan menggunakan kerangka teori yang telah dipelajari. Akibat adanya pandemi Covid-19, maka program studi Tasawuf dan Psikoterapi memutuskan bahwa PPL dilaksanakan tidak di lembaga, namun di daerah domisili mahasiswa. Model PPL semacam ini ditempuh guna meminimalisasi terjadinya mobilisasi dan perkumpulan dalam jangka waktu yang lama untuk menghindari kerentanan terkena Covid-19.

Terdapat dua model PPL tahun 2020 ini, yaitu mahasiswa memberikan psikoterapi terhadap individu yang mengalami gangguan kejiwaan dan spiritual ringan dan memberikan psikoedukasi terhadap masyarakat dengan tema yang dibutuhkan oleh masyarakat. Pelaksanaan PPL tersebut diwajibkan untuk menerapkan protokol kesehatan, misalkan menggunakan masker dan menghindari kerumunan. Mahasiswa diberikan keleluasaan untuk memilih salah satu sesuai dengan permasalahan yang ditemui di lokasi domisili mereka. Sehingga, sebagian mahasiswa memilih model pemberian psikoterapi kepada individu dengan gangguan ringan, dan sebagian mahasiswa lain melakukan psikoedukasi.

Baik pelaksanaan psikoterapi maupun psikoedukasi, disupervisi secara ketat oleh para dosen pembimbing, yaitu Supriyanto, S.Ud., M.Ud., Ahmad Saifuddin, M.Psi., Psikolog, Dr. Nurisman, M.Ag., Dr. Zainul Abas, M.Ag., Drs. Ahmad Hudaya, M.Ag., Siti Fathonah, M.A., dan Lintang Seira Putri, S.Psi., M.A. Supervisi ini guna menjamin ketepatan analisis dan diagnosis masalah yang dilakukan mahasiswa. Selain itu, juga menjamin bahwa rancangan psikoterapi dan psikoedukasi mahasiswa sudah tepat sehingga diharapkan pada keberhasilan psikoterapi dan psikoedukasi. Contoh masalah yang ditangani oleh mahasiswa dengan psikoterapi adalah kecemasan terhadap masa depan dan depresi ringan. Psikoterapi yang digunakan pun menggunakan psikoterapi yang diintegrasikan antara psikologi dengan nilai tasawuf serta sudah teruji oleh penelitian terdahulu.

Adapun psikoedukasi sebagai upaya untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat terhadap kesehatan mental dan spiritual, dilakukan dengan berbagai tema. Misalkan, stres kerja, stres akademik, kecemasan akibat adanya Covid-19, depresi, tantrum, dan permasalahan lain. Tujuan akhir dari psikoedukasi tersebut adalah meningkatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap berbagai gangguan kejiwaan dan spiritual sehingga memahami langkah-langkah yang harus ditempuh untuk mengatasinya. Dengan demikian, kesehatan mental dapat tercapai. (AS)

Leave a Reply