Oleh: Aida Fitri Aswitami

[email protected]

“Bulan ramdhan adalah (bulan) yang didalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai peunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, barang siapa diantara kamu ada dibulan itu, maka berpuasalah. Dan  barang siapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur” (Q.S. Al-Baqarah:185)

Bulan ramadhan adalah bulan istimewa yang selalu umat muslim nantikan kedatangannya. Bagi umat muslim yang taat, dapat berjumpa dengan bulan ramadhan adalah sebuah anugerah dan kenikmatan, karena banyak sekali manfaat didalamnya. Segala ibadah yang dilakukan di bulan ramadhan akan dilipatgandakan pahalanya, dikabulkan doa-doa dan mengikis dosa-dosa di masa lalu. Inilah keutamaan bulan ramadhan daripada bulan-bulan lainnya. Bulan ramadhan adalah bulan ujian dan berkah, bagi hamba Allah yang mampu melewati berbagai macam ujian dibulan ini, maka Allah akan memberikan berkah dan menjanjikan surga untuknya. Adapun salah satu bentuk ujian tersebut adalah perintah menjalankan puasa. Puasa adalah ibadah dengan menahan nafsu makan, minum, dan perbuatan buruk lainnya yang dapat membatalkan puasa dari terbitnya fajar hingga tenggelamnya matahari. Rasulullah saw bersabda “Puasalah karena manfaat puasa tak ada bandingnya” (HR. Nasaa’i). Menjalankan puasa di bulan ramadhan hukumnya wajib, itu artinya apabila ada seseorang yang secara sengaja atau tidak meninggalkan puasa di bulan ramadhan maka diwajibkan menggantinya di bulan yang lain.

Dalam menjalankan perintah dibulan ramadhan seyogyanya seorang hamba Allah harus memiliki sikap sabar dan syukur. Syekh Abdul Qadir Al-Jailani membagi pengertian sabar menjadi tiga macam yaitu bersabar karena menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya, bersabar terhadap ketetapan dan perbuatan-Nya, dan bersabar terhadap rezeki, pertolongan dan pahala yang dijanjikan Allah Swt., di akhirat kelak (Solihin & Anwar, 2008). Selain sabar, sikap yang seharusnya dimiliki oleh umat muslim adalah syukur. Sikap syukur membawa umat muslim pada kebahagiaan abadi. Ketika tidak ada makanan atau minuman untuk disantap ketika berbuka puasa maka hendaklah bersyukur sebab masih diberikan udara untuk bernafas, kaki untuk berjalan, kesehatan badan serta kenikmatan-kenikmatan lainnya. Tidak semua orang memiliki sikap syukur. Terkadang, seseorang yang sudah terpenuhi urusan perutnya, tersedia segala kebutuhannya, dan tidak kesulitan dalam menjalankan aktivitas sosialnya belum merasakan kebahagiaan dalam hidupnya dan tidak bersyukur atas segala yang telah didapatnya. Berbeda dengan seseorang yang misal terbatas dalam melakukan aktivitas, cacat fisik, dan miskin masih tetap bersyukur atas apa yang sudah diberikan Tuhannya karena ia menganggap bahwa ini adalah ujian yang patut  dijalani dan syukuri.

Dalam ilmu tasawuf, sabar dan syukur menempati maqam ke empat dan lima setelah tobat, zuhud, dan fakir (Solihin & Anwar, 2008).  Mendengar kata tasawuf mungkin saja masih awam bagi masyarakat. Sedikit, penulis akan menjelaskan pengertian tasawuf. Tasawuf menurut Usman al-Makki adalah apabila seorang hamba melakukan amal yang lebih baik dari waktu yang sebelumnya (Alba, 2009). Adapun tasawuf menurut Abu Hasan al-Syadzili adalah menempa jiwa agar tekun dalam menjalankan perintah-perintah Allah dan mengembalikannya kepada hukum Illahi (Wahyudi, 2018). Sedang, junaid al-Bagdadi mengartikan tasawuf sebagai ‘alaqah’, lebih lengkap ia mengatakan bahwa “Engkau bersama Allah tanpa perantara (’alaqah). Ini artinya tasawuf mengajarkan kita untuk membangun hubungan kedekatan (taqarrub) dengan Allah melalui jalan yang diridai-Nya, sehingga jiwa yang ada padanya bersih atau kembali suci sehingga tersingkaplah tabir yang selama ini menutupi.

Tasawuf bukan hanya wacana yang selalu diperbincangkan dalam kesempatan diskusi atau pada perkuliahan di universitas perguruan tinggi Islam. Namun, tasawuf adalah sebuah gerakan. Tasawuf sebagai gerakan milenial di bulan ramadhan diartikan sebagai revolusi akhlak. Maksudnya memperbaiki akhlak tercela dan merubah secara besar-besaran di bulan ramadhan. Hal ini akan lebih mudah dilakukan sebab di bulan suci ramadhan seluruh umat muslim mendukung gerakan perubahan akhlak yang dilakukan. Berbagai kegiatan ibadah seperti puasa, buka puasa bersama, tarawih, membaca ayat suci al-Qur’an, dan kegiatan ibadah lainnya sangat mendukung misi tasawuf sebagai gerakan perubahan. Bulan suci ramadhan tidak bisa dilewatkan begitu saja. Sebagai manusia milenial rasa tasawuf, bulan ramadhan akan dijadikan kesempatan untuk melakukan pertobatan sebanyak-banyaknya karena di bulan inilah doa-doa aka terkabul dan di bulan inilah segala dosa akan gugur.

Kedatangan bulan ramadhan seperti menjadi ajang umat muslim untuk berlomba dalam beribadah. Belum lagi bagi kebanyakan orang yang menjadikan momentum ini untuk berkumpul dengan sanak saudara jauh dan keluarga besar. Oleh karena itu, tidak heran apabila dalam menyambut kedatangan bulan suci ramadhan banyak sekelompok masyarakat Islam yang mengadakan pengajian akbar untuk menyambut kedatangan bulan suci ramadhan. Namun berbeda dengan tahun ini. Menjelang kedatangan bulan suci ramadhan, tidak ada satu komunitas pun mengadakan acara penyambutan ini. Bukan karena tidak suka dan tidak memandangnya sebagai bulan yang istimewa lagi, namun karena mengikuti aturan pemerintah yang mewajibkan warganya untuk tetap “dirumah saja” karena adanya wabah virus corona (COVID-19). Tetap dirumah saja bukan berarti kita harus rebahan saja, akan tetapi kita dapat melakukan kegiatan yang bermanfaat. Sehingga waktu “dirumah saja” tidak terbuang dengan percuma.

#Salam, tetap dirumah saja  !

Leave a Reply