Forum Mahasiswa Ushuluddin mengadakan kegiatan diskusi rutin pada Kamis, 12 Maret 2020 yang bertempat di Gd. Laboratorium lantai 1. Forum ini adalah forum diskusi rutin yang menaungi mahasiswa dari berbagai macam program studi yang ada di Fakultas Ushuluddin seperti Aqidah dan Filsafat Islam (AFI), Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT), Psikologi Islam (PI) dan juga Tasawuf dan Psikoterapi (TP).

Pada kesempatan kali ini Forum Diskusi Ushuluddin bekerjasama dengan Depertemen Keilmuan HMPS Tasawuf dan Psikoterapi yang menjadi petugas pada diskusi tersebut. adapun pemantik pada diskusi tersebut yaitu Annisa Rahmah dan Habib Baihaqi. Diskusi ini mengangkat judul “Menyelisik Suluk Syekh Siti Jenar”. Secara garis besar materi-materi yang disampaikan berupa biografi syekh siti jenar, asal – usul, bentuk pemikirannya, konsep tentang manunggaling kawula gusti, dan beberapa hal lain yang terkait dengan adanya konsep tersebut.

Biografi

Syekh Siti Jenar  adalah seorang ulama kontroversial  yang memiliki nama kecil San Ali. Ia berasal dari Krendhawa, Cirebon. Asal usulnya sendiri masih dipertanyakan. Ada yang mengatakan bahwa beliau 1) berasal dari cacing; 2) beliau adalah keturunan Prabu Resi; 3) atau keturunan Arab-Malaka. Yang mengatakan ia berasal dari cacing, bukan berarti ia keturunan biologis dari genus cacing. Melainkan sebuah filosofi bahwa cacing adalah hewan yang berada di dasar tanah. Seperti yang kita tahu bahwa manusia berasal dari saripati tanah dan sumber penghidupannya pun dari tanah. Maka dari itu, manusia sama halnya dengan cacing, dari segi pemaknaan hidup.

Manunggaling Kawula Gusti

Manunggaling kawula Gusti adalah satu konsep dalam upaya menjelaskan ‘rasa’ kebatinan dalam bentuk verbal. Kita tahu, rasa berbentuk abstrak dan akan sangat sulit apabila tidak dijelaskan secara terperinci dan terkonsep. Manunggaling Kawula Gusti sendiri berarti bersatunya aku dengan Sang Ilahi. Bersatunya badan wadag dengan Yang Sakral. Sekilas, dari pengertian ini sudah dapat menimbulkan berbagai macam pertanyaan, bagaimana bisa seorang hamba melebur kepada Tuhan yang tinggi di atas?

Syekh Siti Jenar memberikan pengertian kepada kita bahwa Tuhan itu dekat. Manusia adalah salah satu bentuk pancaran Tuhan itu sendiri. Jika diibaratkan, seseorang berdiri di depan banyak cermin. Bayangan cermin itu ada banyak. Puluhan bahkan ratusan, tetapi hakikatnya hanya ada satu subjek.

Kontroversialnya sama persis seperti al-Hallaj dengan konsep hulul, Ibnu Arabi dengan konsep Wahdatul Wujud, dan Yazid Busthami dengan konsep ittihad. Namun pendekatan yang diambil Syekh Siti Jenar adalah pendekatan kultural, disamping pendekatan filosofis. Itu mengapa dalam ajarannya, ia sering menyebut Tuhan dengan sebutan Ingsun Sejati, Sang Hyang Dzat Anom, atau Sang Hyang Murbeng Jagad agar Tuhan dapat dirasakan “lebih dekat” dengan masyarakat Jawa pada waktu itu.

Leave a Reply