Oleh: Fian Rizkyan SP

[email protected]

A. Pendahuluan

Tasawuf falsafi adalah tasawuf yang ajaran-ajarannya memadukan antara visi mistis dan visi rasional penggagasnnya. Atau dengan kata lain memadukan antara ajaran tasawuf dengan pemikiran filsafat. Menurut saya, agaklah sulit membedakan tokoh filsafat Islam dengan tokoh tasawuf falsafi, karena banyak tokoh-tokoh filsafat Islam yang mengkonsepkan dan menjalani ajaran-ajaran tasawuf. Jadi belim ada batasan pasti mana yang tokoh tasawuf falsafi secara jelas. Maka dari itu saya di makalah ini mengambil tokoh Mulla Shadra dimana ia lebih condong filsuf islam yang banyak juga membahas tentang wujud dan perjalanan-perjalanan spiritual seperti kebanyakan tokoh tasawuf falsafi, dan mungkin juga dapat dikatakan dengan tokoh tasawuf falsafi.

B. Biografi Mulla Shamudra

Nama lengkapnya adalah Muhammad ibn Ibrahim Yahya Qawani Syirazi, dan sering disebutnya Shadr al- Din ak-Syirazi atau Akhund Mulla Shadra. Shadra dilahirkan di Syiraz pada tahun 979 atau 980 H atau 1571 atau 1572 M. Dia lahir dari keluarga yang terkenal dan banyak pengaruhnya. Mulla Shadra adalah anak tunggal  yang kemudian sangat di perhatikan oleh orangtuanya, disamping lagi ayahnya adalah seorang gubernur di wilayah Fars. Dia dikenal sebagai aak yang cerdas dan saleh, dengan cepat ia dapat menerima dan mengusai apa yang telah diajarkan kepadanya, seperti ilmu hadis, Al-Qur’an, bahasa Arab dan Persia, dan banyak disiplin imu lain.

Pada usian muda, Mulla Shadrra melanjutkan studi ke Isfahan, sebuah pusat budaya penting untuk Timur Islam pada saat itu, ia berguru pada teolog Baha al-Din al-‘Amili (w. 1031 H/1622M), kemudian kepada filsuf paripatetik Mir Abu al-Qasm Fendereski (w. 1050M/1641), tetapi gurunya yang paling utama adalah Muhammad yang di kenal dengan sebutan Mir Damad (w. 1041/1631M),seorang penggagas berdirinya pusat kajian filsafat dan teolog yang dikenal sebagai aliran Iisfahan.[1]Mulla juga pernah berguru dengan seorang sufi yang bernama Mir Findiriski.

Perjalanan mulla shadra kemudian meninggalkan Isfahan untuk menuju sebuah desa di pedalaman yang berdekatan dengan Qum dimana desa itu disebut Kahak. Di desa Kahak tersebut dia menjalani amalan-amalan tasawuf seperti berzuhud dan melakukan latihan-latihan rohani untuk pembersihan hati sehigga mencapai hikmat-i illahi (rahasia illahi). Dalam rentang waktu mulla menjalani latihan-latihan rohaninya ada yang mengatakan ia berzuhud selama tiga tahun ada pula riwayat yang mmengatakan sebelas tahun.

Allahwardi Khan seorang gubernur Fars pada masa itu membangun sekolah besar di Syiraz, dan atas desakan serta permintaan masyarakat waktu itu tidak hanya masyarakat Syah Abbas II (1588-1629) dari dinasti Safawi juga meminta Mulla Shadra untuk mengajar dan menjadi guru besar di sekolah tersebut. Mulla menerima tawaran tersebut dan mengajar di sekolah itu, dimana sekolah tersebut menjadi pusat ilmu pengetahuan yang sangat berpengaruh di Persia. Shadra tidak hanya mengajar tetapi juga menulis ketika menjadi guru di sekolah tersebut. Sudah banyak karya yang ia lahirkan selama menjadi pengajar di sekolah tersebut. Mulla Shadra meninggal pada usia 79 tahun di Basrah, sepulangnya dari menunaikan ibadah haji yang ketujuh.[2]

C. Latar Belakang Intelektual

Pada abad ke XIII, Nasir al-Din al-Thusi, seorang filsuf Paripatetis terkemuka, terpengaruh oleh beberapa pandangan oara filsuf iluminasi, melakukan counter-attack, dan membalikan “nama baik” filsafat paripatetis lewat karyanya Syarh al-Isyarat (Syarah terhadap kitab panduan dan penelitian karya Ibnu Sina) yang kemudian bersamaan dengan itu, pada abad ke XIII juga muncul tokoh-tokoh besar di bidang spiritual yang bercorak gnaisis atau irfan, seperti Ibn ‘Arabi, Sadr al-Din, dan Jalal al-Din Rumi.[3] Dibidang ilmu kalam, beberpa abd sebelum mulla shadra, merupakan masa yang paling kreatif. Setelah masa Fakhr al-Din Razi, aliran ilmu kalam sunni terus berkembang terutama lewat karya-karya Qadi ‘Adud al-Din Iji, Sa’d al-Din Taftazani, dan Sayyid Syarif Jurjani hingga ke masa mincilnya Syah Walallah di India pada abad ke XVIII, sedangkan aliran Ilmu Kalam Syiah mulai berkembang bentuknya yang sistematis pada abad ke IV H/X M dan seterusnya yang ditandai dengan munculnya tokoh seperti muhamma, Ibn Babuyah, Syekh Muhammad al-Thusi, dan Ahmad ibn Ali Tabarsi.[4]

Filsafat paripatetis, iluminasi, irfan, kalam sunni-syi’ah telah mempengaruhi tradisi pemikirn di kerajaan safawi. Ada beberapa tokoh penting yang membentuk dasar pemikiran yaitu Jalal al-Din Dawani seorang ahli ilmu filsafat paripatetis dan ilmu kalam, kemudian Sayyd Syarif Jurjani, seorang sufi, dan Quth al-Din Syirazi dan Ibn Turkah yang menguasai filsafat paripatetis dan iluminasi serta ilmu tasawuf.kemudian pada masa pemerintaha Syali ‘Abbas (1588-1629) muncul sarjana-sarjana seperti Mir Damad seorang tokoh terkemuka sekaligus guru Mulla Shadra. Dengan penghayatan yang mendalam tentang tradisi pemikiran Islam sebagai prespektif intelektual yang terus hidup dan berkembang kesungguhannya dalam memahami keterkaitan doktrin antara aliran pemikiran Islam, Mulla Shadra berusaha membentuk suatu sitesis dalam dimensi yang baru yang dinamakan al-Hikmah al-Muta’aliyah.[5]

D. Pemikiran Metafisika (Wujud), Jiwa, dan Moral

1. Wujud

Semulanya Mulla Shadra adalah penganut pemikiran filsafat metafisika esensialis Suhrawardi, setelah Shadra menjalani penglaman spiritual yang didukung dengan pemikiran intelektualnya, Shadra memformulasikan eksistensial untuk menggantikan metafisika esensialis sebelumnya.

Mulla Shadra dalam pandangannya tentang wahdah (unity) dan tasykik (gradation) mempunyai pndangan yang berbeda dengan doktrin paripatetis. Menurut filsuf muslim paripatetis, wujud setiap benda itu berbeda esensinya satu sama lain, tergantung quiditas (mahiyah)nya masing-masing, sedangkan menurut Shadra, wujud itu memiliki realitas yang sama di dalam semua bidang eksistensi, yang ada adalah realitas tunggal, yang membedakan hanyalah bobot/intensitas tingkatan atau gradasi, seperti cahaya matahari, cahaya lampu, cahaya kunang-kunang, subyeknya adalah sama (cahaya), tapi predikatnya berbeda yaitu bobot perwujudannya, demikianlah pula halnya wujud.[6]

Mulla Shadra membagi wujud menjadi wujud terikat dan wujud bebas. Wujud terikat (al-wjud al-irtibati) adalah yang menghubungkansebuah subyek dengan sebuah predikat seperti pernyataan “manusia adalah hewan rasional”. Kemudian wujud bebas (al-wujud al-nafsi) yaitu wujud yang berdiri bebas dan tidak menunjukan tidak ada keterkaitan antara subyek dengan predikat. Wujud bebas (al-wujud al-nafsi) di bagi lagi menjadi tiga jenis yaitu jauhar atau bukan merupakan kualitas bagi yang lain, ‘ardh sessuatu yang menjadi kualitas bagi yang lain,dan sesuatu yang tidak memerlukan sebab di luar dirinya yaitu Tuhan.

Tahapan perjalanan akal dari ketidak sempurnaan menuju Yang Maha Semperna yang digambarkan Mulla Shadra dalam risalahnya al-Hikmah al-Muta’aliyah fi Asfar al-Aqliyah al-Arba’ah ada empat tahapan.

Pertama, dari makhluk menuju hakikat yaitu pengembaraan nafsu ke hati kemudian ke maqam ruh, dari maqam ruh menuju maqam tujuan tertinggi (al-bajah al-kubra) atau tujuan terakhir (al-maqshad al-aqsha).

Kedua, dari hakikat ke hakikat dengan hakikat. Dimulai dari maqam dzat menuju maqam kamalat hingga hadir kesempurnaan Tuhan dan mengetahui seluruh nama Tuhan. Perjalanan ini berakhir dengan daerah kewalian (dairat al-wilayat)

Ketiga, dari hakikat kepada makhluk dengan hakikat. Setelah menjalani perjalanan dari maqam ke maqam, kefana’an berakhir kemudian kekal (baqa) dalam kekekalan Tuhan.

Terakhir, perjalanan dari makhluk ke makhluk dengan hakikat. Seorang salik mengamati makhluk dan menangkap kesan-kesan yang ada pada makhluk itu, kemudian mengetahui kebaikan-kebaikan dan kejahatan secara lahir dan batin, sekarang atauoun yang akan datang. Dalam kehidupannya, ia senantiasa bersama yang haqq karena wujudnya telah terpaut oleh Tuhan dan perhatiannyakepada makhluk tidak mengganggu perhatiannya kepada Tuhan.[7]

2. Jiwa

Menurut Shadra, jiwa itu tidak bersifat abadi, dalam arti jiwa itu tidak dapat terpisah dari materi. Apabila jiwa dari dilahirkan berada dalam materi,  kejiwaannya tidak dapat di artikan sebagai relasi, dimana seolah memiliki eksistensi bebas kemudian berhubungan dengan materi. Jiwa bekerja dalam materi melalui penghubung yang berupa daya yang ada dibawahnya..

Jiwa seorang manusia ataupun hewan memiliki kesamaan kemampuan untuk melepaskan diridari badannya. Jiwa hewan melepaskan dirinya dengan imajinasi aktual, dan jiwa manusia dengan akal.

3. Moral

Agama Islam diturunkan oleh Allah kepada manusia dengan tujuan membimbing memperoleh kebahagiaan tertinggi dengan jalan menciptakan keseimbangan, baik pada tingkat individu maupun sosial.[8] Substansi manusia yang diciptakan oleh Dzat Yang Maha Sempurna haruslah mengetahui cara mengaktualisasikan kemampuannya. Substansi wujud di dunia mengalami transformasi yang menempatkan manusia sebagai pusat domain dunia yang menaghubungakan skala wujud. Keadilan tidak dapat dipisahkan dengan konsep keseimbangan. Menurut Shadra, dua konsep tersebut dikaitkan dengan puncak kesempurnaan jiwa manusia dan persoalan etika dalam filsafat, tasawuf dan syari’ah.

E. Kesimpulan

      Mulla Shadra adalah seorang intelektual pada zamannya, dimana selain belajar tentang filsafat ia juga belajar ajaran tasawuf dengan guru-guru sufinya yang kemudian ia aktualisasikan dengan melakukan latihan-latihan spiritual yang salah satunya dengan berzuhud dan pengalaman spiritual lainnya. Pemikiran-pemikiran Mulla Shadra adalah terpengaruh pemikiran-pemikiran yang beraneka ragam pada zaman kerajaan safawi dimana saat itu banyak tokoh filsafat dan juga tasawuf yang banyak mempengaruhi pemikirannya. Jika di tanya Mulla Shadra lebih condong ke tokoh filsafat dari pada tasawuf. Mulla Shadra mencoba menjelaskan pengalaman-pengalaman spiritualitasnya dengan menggunakan pemikiran filsafatnya.

Referensi

Aziz, Muhammad. “Mulla Shadra [1571 M- 1636 M] (Studi Tentang Pemikiran Al-Hikma AL-Muta’aliyan Al-Asfar Al-Arba’ah). AL-HIKMAH Jurnal Studi Keislaman. Vol 5. No. 1.2015.

Faiz. Eksistensialisme Mulla Shadra. Teosofi : Jurnal Tasawuf dan Pemikiran Islam Vol 3, No 2, 2013.

Bagir, Haidar. 2006. Buku Saku Filsafat Islam. Jakarta: Mizan.

Hasan, Mustofa. 2015. Sejarah Filsafat Islam. Bandung: Pustaka Setia

Hasimsyah, Nasution. 1999. Filsafat Islam.  Jakarta,. Gaya Media Pratama.

[1] Nasution Hasimsyah, Filsafat Islam, Gaya Media Pratama, Jakarta, 1999, hlm.165

[2] Haidar Bagir, Buku Saku Filsafat Islam, Mizan, Jakarta, 2006, hlm. 164

[3] Nasution Hasimsyah, Filsafat Islam, (Jakarta: Gaya Media Pratama 1999), hlm.170

[4] Ibid, hlm. 170

[5] Nasution Hasimsyah, Filsafat Islam, (Jakarta: Gaya Media Pratama 1999), hlm.171.

[6] Ibid. Hlm. 175

[7] Nasution Hasimsyah, Filsafat Islam, (Jakarta: Gaya Media Pratama 1999), hlm.174

[8] Nasution Hasimsyah, Filsafat Islam, (Jakarta: Gaya Media Pratama 1999), hlm.178.

Leave a Reply